Ibadah Yang Sejati
Saudara-saudara
yang terkasih, pernahkah kita menyadari akan pentingnya sebuah ibadah? Sering
kita mengganggap ibadah hanyalah sebagai sebuah kebiasaan saja tiap minggu.
Atau, beberapa dari kita pergi beribadah hanyalah untuk bertemu dengan rekan
bisnis kita. Ketika Firman Tuhan pun, beberapa dari kita kadang malah asyik
dengan handphone kita. Itulah realitas yang sering sekali kita temui dalam
beribadah. Ibadah yang kital lakukan telah kehilangan fungsi dan maknanya, tergantikan dengan yang lain.
Bacaan kita pada
pagi hari ini, berisi tentang bagaimana nabi Yeremia mendapat perintah dari Tuhan untuk memperingatkan bangsa Yehuda.
Bangsa Yehuda yang telah menyimpang jauh dari Tuhan, mereka beribadah tetapi
tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Mereka menjadikan ibadah sebagai alasan
agar dosa-dosa mereka diapuni. Ibadah yang sejati tidaklah seperti apa yang
dilakukan oleh Israel, tetapi sesuai dengan apa yang diperintahkan Tuhan oleh
nabi Yeremia. Apa yang diperintahkan Tuhan, sehingga Ibadah yang kita lakukan
bisa berjalan sesuai dengan fungsinya? Dari bacaan ini, kita akan belajar 2
fungsi ketika kita menjalankan ibadah yang sejati.
1.
Memperbaiki Tingkah Laku
Manusia ( v3, 5, 6-7)
Waktu itu Firman Tuhan datang melalui perantaraan nabi Yeremia.
Tuhan mengingatkan kepada Yeremia agar semua orang Yehuda yang masuk melalui
pintu gerbang tersebut untuk sujud dan menyembah kepada Tuhan. Kata sujud dan
menyembah merujuk pada suatu kegiatan yang sekarang ini kita sebut dengan ibadah.
Peristiwa tersebut sama dengan kita hari ini, dimana kata-kata Tuhan tersebut
merujuk kepada setiap kita yang masuk ke dalam rumah Tuhan untuk beribadah.
Mereka yang disebutkan disini tidak pandang buluh, mereka semua yang ada baik
itu jemaat atau petugas pelayan gereja. Disini Firman Tuhan bersifat universal
tidak melihat jabatan yang ada di dalam gereja.
Ketika semua sudah masuk ke dalam ibadah, Yeremia menyampaikan pesan
yang diberikan oleh Tuhan, “Perbaikilah tingkah lakumu dan perbuatanmu, maka
aku akan diam bersama-sama kamu di tempat ini”. Kata kata ini merupakan suatu
peringatan bagi bangsa Yehuda agar mereka melakukan apa yang diperintahkan oleh
Tuhan. Bila kita melihat pasal yang sebelumnya, diperlihatkan bagaimana bangsa
tersebut telah rusak tingkah lakunya. Untuk itulah Yeremia ditugaskan untuk
memperingatkan bangsa tersebut. Pasal 6: 28 sangat membantu kita melihat
bagaimana kondisi bangsa Yehuda, mereka yang pendurhaka belaka, mereka yang
berjalan kian kemari sebagai pemfitnah, dan tingkah laku mereka yang busuk
menggambarkan bagaimana parahnya tingkah laku mereka. Dengan kondisi yang
seperti itu, mereka masih dapat datang untuk beribadah.
Dari bagian yang pertama ini, kita dapat melihat, melalui firman
yang disampaikan oleh Yeremia, ibadah yang dilakukan dengan sejati berguna
untuk memperbaiki tingkah laku manusia. Melalui Firman yang disampaikan oleh
hambaNya, membantu kita untuk terus mengingat akan bagaimana kita dapat hidup
seturut dengan kehendak Tuhan. Meskipun dengan latar belakang yang sangat buruk
sekalipun, ketika kita dapat mendengar Firman Tuhan, itu menjadi suatu
peringatan bagi kita dalam bertindak.
Firman yang datang melalui nabi Yeremia menjelaskan secara rinci
bagaimana bangsa tersebut memperbaiki tingkah laku mereka. Dalam ayat yang ke 6
mengatakan dengan cara tidak menindas orang asing, yatim dan janda, tidak
menumpahkan darah orang yang tidak bersalah di tempat ini dan tidak mengikuti
allah lain, yang mejadi kemalangan mu sendiri. Ayat ini juga mengingatkan kita
hari ini. Tingkah laku kita apakah sudah menjadi dampak bagi sesama kita,
apakah kita sudah saling membantu sesama. Kata menindas orang asing, memberi
petunjuk kita agar kita memperlakukan semua orang dengan baik. Kata orang asing
memberikan pengertian agar kita tidak membeda-bedakan orang. Terhadap satu
dengan yang lain haruslah sama. Tidak ada istilah karena dia baik dengan kita,
maka kita baik terhadap dia juga. Begitu juga sebaliknya. Apakah dia pernah
membantu kita, sehingga kita berbuat baik kepada dia.
Kata selanjutnya yang menunjukan agar kita memperbaiki tingkah laku
kita yaitu dengan cara tidak menumpahkan darah orang yang tidak bersalah di
tempat ini. bagian yang kedua ini memanglah cukup ekstreem apabila kita artikan
secara literal. Menumpahkan darah pada jaman tersebut memang suatu tindakan
yang cukup sering dilakukan.[1]
Tetapi yang menjadi perhatian disini adalah kata orang yang tidak bersalah.
Menumpahkan darah pada masa kini tidak akan terjadi, tetapi seringkali kita
pada masa sekarang lebih mengarah kepada orang yang tidak bersalah untuk
terlibat dalam tindakan kita yang salah. Tindakan yang salah memang seringkali
terlihat baik untuk dilakukan. Bangsa Yehuda dalam Yeremia 7 ini juga
terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran salah yang seringkali mereka benarkan.
Mereka menganggap bahwa dengan berada di bait Allah, mereka terlindungi dari
dosa-dosa mereka, sehingga mereka terus melakukan dosa setiap harinya namun
bertobat pada saat ibadah dan melakukan dosa lagi, dan bertobat lagi begitu
seterusnya. Pemahaman yang semacam inilah yang membuat merak yang tidak
bersalah menjadi terpengaruh terhadap paham-paham seperti ini.
Bagian penting selanjutnya yang harus menjadi bagian dalam
memperbaiki tingkah laku manusia adalah dengan tidak mengikuti allah lain. Sepanjang
pergerakan bangsa tersebut, tidak jarang mereka terpengaruh oleh kebudayaan
orang-orang di sekitar mereka yang menyembah kepada dewa-dewa atau allah lain.
Itu tidak dapat terpungkiri,dan ketika mereka sering melihat lah tersebut,
mereka tidak jarang untuk terpengaruh. Penyembahan kepada dewa-dewa membuat
mereka jatuh dalam tingkah laku yang salah, mereka juga percaya kepada
pemahaman-pemahaman mistis. Yang memperhatinkan lagi, pemahaman mistis tersebut
juga dibawa oleh mereka hingga di dalam bait Allah. Dengan berada di dalam bait
Allah mereka menganggap kalau mereka disucikan lagi, sehingga tidak masalah
untuk berbuat dosa lagi di kemudian hari, karena dengan ibadah mereka
memperoleh penghapusan dosa. Asumsi ini adalah salah, dan tidak terpungkiri mungkin
mereka terpengaruh oleh cara ibadah allah-allah lain yang berjalan di sekitar mereka.
Dalam suatu institusi atau dalam suatu pemerintahan, ada yang
dinamakan dengan peraturan. Peraturan dibuat untuk ditaati agar semua dapat
berjalan dengan semestinya. Ketika saya pertama kali masuk dalam lingkup
pendidikan di STT Aletheia, saya tidak mengetahui apa yang diperbolehkan dan
apa yang tidak diperbolehkan. Saya pernah menggunakan celana pendek ketika
berada di luar asrama. Saya juga pernah menggunakan sandal japit ketika berada
di luar asrama juga. Dalam peraturan yang ada, ini merupakan suatu pelanggaran.
Namun dengan membaca ulang buku pedoman mahasiswa yang diberikan, saya pun
akirnya menyadaari kalau itu salah. Banyak teguran-teguran yang sudah diberikan
kepada saya, ketika saya melakukan kesalahan tersebut, namun saya tidak
mengindahkan teguran tersebut. Dengan peraturan yang diberikan membuat saya
untuk dapat memperbaiki tingkah laku yang salah tersebut.
Peraturan yang dibuat oleh Allah sudah tertuliskan dengan lengkap
dalam Alkitab. Firman Tuhan tersebut juga sering kita dengarkan, baik melalui
pendeta atau orang yang menyampaikan firman Tuhan di mimbar, atau bahkan firman
Tuhan datang melalui orang-orang disekitar kita. Apakah kita seringkali
mengabaikan firman tersebut? Ataukah kita dapat melakukan dan menjadi suatu
refleksi tersendiri bagi kita, untuk dapat memperbaiki tingkah laku kita yang
salah tersebut?
2.
Menyatakan kebenaran ( v.8-15 )
Firman Tuhan yang datang melalui ibadah yang sejati berfungsi untuk
menyatakan kebenaran. Bangsa Yehuda seperti yang sudah kita lihat dalam point
sebelumnya, mereka seringkali terpengaruh oleh budaya di sekitar mereka.
Kepercayaan-kepercayaan lain membuat mereka memperlakukan apa yang diyakini
oleh kepercayaan tersebut sama dengan apa yang diajarkan oleh Allah mereka.
Mereka menganggap dengan beribadah, mereka dapat disucikan dari dosa dan di
kesempatan berikutnya mereka dapat berbuat dosa lagi, lalu disucikan lagi, dan
seterusnya. Ini merupakan suatu anggapa yang salah dan keliru.
Kisah tersebut dapat kita lihat dalam ayatnya yang ke 10-11. Mereka
yang telah melakukan perbuatan-perbuatan yang keji tersebut datang dengan rasa
tidak bersalah kehadapan Tuhan dan mengatakan “Kita Selamat, supaya dapat
melakukan perbuatan keji ini.” pernyataan tersebut menyedihkan hati Tuhan,
sehingga muncullah respon yang dituliskan dalam ayat ke 11. Bait Allah sudah
menjadi seperti sarang penyamun.
Tuhan pun mengingatkan mereka mengenai apa yang terjadi di Silo.
Mereka harus belajar agar tidak mengalami hal yang sama seperti apa yang
dilakukan Allah di Silo. Disini kebenaran Allah pun dinyatakan. Dengan meningat
apa yang terjadi di Silo, mereka harusnya melihat suatu kebenaran dari Allah.
Allah yang mereka sembah adalah Allah yang benar dan tidak ingin di duakan.
Selain mereka menganggap tidak apa-apa untuk berbuat dosa lagi,
Yehuda beranggapan bahwa bait Allah tidak bakal runtuh. Allah tetap tinggal di
dalam nya meskipun dengan kondisi keberdosaan seperti itu. Peristiwa ini sama
dengan apa yang terjadi di Silo.[2]
Ketika Israel berhadapan dengan orang Filistin, Israel beranggapan bahwa Bait
Allah mereka tidak akan rubuh meskipun tabut perjanjian dipindahkan dari situ.
Namun anggapan itu keliru, bait Allah pun akirnya runtuh.
Melalui kisah di Silo Allah ingin menyatakan kebenaran kepada bangsa
Yehuda juga. Kebenaran yang ingin disampaikan, agar mereka tetap berjalan
sesuai dengan apa yang difirmankan Allah kepada mereka. Firman Tuhan yang
datang dalam ibadah, membantu kita untuk menemukan fungsi yang kedua dari
ibadah yang sejati. Dengan ibadah yang sejati, kita dapat melihat kebenaran
Allah. Kebenaran tersebut disampaikan melalui Firmannya.
Ayah saya ketika masih berusia belasan seperti saya, ia pernah
mengunjungi suatu kota. Pada jaman tersebut tidak lah seperti sekarang yang
dimanjakan dengan aplikasi-aplikasi canggih yang mampu menuntun kita
berpergian. Pada waktu itu, peta menjadi salah satu andalan ketika berpergian
jauh. Untuk mencapai tempat yang kita tuju, kita harus mengetahui arah mata
angin, atau tempat-tempat terkenal agar kita mampu membaca peta tersebut. Degan
membaca peta, kita dapat dituntun kita untuk lewat jalan yang benar.
Sama seperti peta yang menuntun untuk mencapai tujuan yang kita
tuju, begitulah dengan Alkitab. Dengan membaca dan merenungkan Firman Tuhan
baik melalui Alkitab ataupun lewat kotbah-kotbah yang kita dengarkan, dapat
menuntun kita untuk berjalan sesuai dengan kebenaran. Dengan ibadah yang sejati,
kebenaran tersebut dapat kita pahami dengan sempurna. Fokus pada tujuan kita
beribadah, merupakan salah satu kunci agar kita dapat melihat kebenaran yang
disampaikan Allah kepada kita.
Apakah kita sudah melakukannya dalam kehidupan kita? berkata-kata benar,
melakukan hal yang benar, dan terlebih beribadah dengan benar untuk dapat
melihat Allah menyatakan kebenaran di dalam kehidupan kita.
Pada pagi hari
ini, kita sudah belajar 2 fungsi ketika
kita beribadah dengan sejati di hadapan Allah. Allah telah mengingatkan bangsa
Yehuda melalui firmannya, begitu juga Allah telah memperingatkan kita pada hari
ini. 2 fungsi tersebut adalah untuk memperbaiki tingkah laku kita sebagai orang
yang penuh dosa di hadapan Allah. Fungsi yang kedua adalah menyatakan kebenaran
sesuai apa yang telah Allah Firmankan di dalam Alkitab. Sudahkah kita melakukan
kedua fungsi tersebut ketika kita beribadah?
Mari bersama
kita berdoa…
Komentar
Posting Komentar